Review 100 Days My Prince #Caca'sMovieList
Sejujurnya aku menonton drama ini karena Kyungsoo jadi pemeran utamanya, hihi. Ini juga pertama kalinya aku menonton drama-nya Kyungsoo secara full setelah sebelumnya sering sekali cuplikannya muncul di berandaku. Padahal, aku lebih dulu tahu Kyungsoo itu aktor. Aku tahu bahwa Kyungsoo itu idol EXO dan punya nama panggung D.O. itu masih baru-baru ini, karena ya menurutku dia ga ada wajah-wajah idolnya sama sekali 🙂.
Tapi karena drama ini terasa spesial, jadi aku mau mengulasnya sedikit.
Title: 100 Days My Prince
Genre: Historical Romantic Comedy
Director: Lee Jong Jae
Casts: Doh Kyungsoo as Lee Yul/Na Wondeuk
Nam Jihyun as Yoon Yi Seo/Hong Shim
Rating: ⭐⭐⭐⭐⭐ 4.9/5
Sebetulnya aku tidak begitu bisa menilai aspek-aspek film secara spesifik. Jadi aku tidak bisa menilai mana film yang bagus dan tidak berdasarkan aspek-aspeknya, mungkin seleraku agak receh. Seringnya, daripada menilai sinematografi, acting pemeran, dan latar musik, aku malah lebih sering larut dalam alur, kedalaman pesan, dan emosi yang disampaikan. Jadinya kalau sekiranya aku merasakan banyak hal dan belajar banyak dari film itu, ya menurutku itu film yang bagus.
Drama ini sangat menguras emosi ditambah dengan acting Kyungsoo yang memukau. Kyungsoo berperan sebagai Lee Yul, Sang Putra Mahkota kerajaan Joseon. Di sini, aura putra mahkotanya kuat sekali, baik saat memakai jubah putra mahkota maupun saat memakai pakaian lusuh rakyat biasa.
Lee Yul menjadi putra mahkota ketika masih kecil, setelah ayahnya menjadi raja. Pengangkatan ayahnya menjadi raja sebenarnya karena kudeta. Ayah Lee Yul menuruti pihak yang mengkhianati raja sebelumnya dan menerima permintaan menjadi raja bukan karena menginkan kekuasaan, tetapi ia berpikir bahwa itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarganya dari pertumpahan darah. Kayaknya serbasalah yaa, jadi Ayah Lee Yul,, tapi sebenarnya dia orang yang baik.
Lee Yul kecil menyaksikan keluarga teman kecilnya dibunuh oleh orang-orang menakutkan, lalu kemudian ia melihat pembunuh-pembunuh itu berlutut pada ayahnya. Oleh karena kejadian itu, Lee Yul menjadi putra mahkota dan hidup di istana dengan dipenuhi rasa bersalah karena mendapat kedudukan atas darah orang-orang tak bersalah, serta ketidaknyamanan yang membuatnya menjadi sosok yang dingin. Kalimat khasnya yaitu "Apakah hanya aku saja yang merasa tidak nyaman disini?" padahal yang membuat suasana tidak nyaman adalah atmosfer dirinya sendiri, wkwk..
Setelah dewasa, banyak hal terjadi, dan Lee Yul tidak pernah menyentuh putri mahkota sama sekali. Pada tahun-tahun itu, terjadi kekeringan yang lumayan ekstrem. Banyak pihak yang menyalahkan putra mahkota karena tidak bisa menjaga keseimbangan Yin dan Yang sehingga hujan tidak pernah turun. Tetapi daripada menyentuh istrinya, putra mahkota malah mengeluarkan titah untuk menikahkan bujang dan perawan yang belum menikah, "bukankah lebih efektif jika banyak yang menikah daripada hanya aku seorang?" pikiran logisnya saat para pejabat mempertanyakannya.
Namun, banyak sekali kejadian dan ketidakpuasan orang-orang pada putra mahkota, sehingga banyak terjadi percobaan pembunuhan padanya. Puncaknya pada saat ia menghadiri ritual, tiba-tiba sekelompok pembunuh menyerang rombongannya.
Setelah terjadi percobaan pembunuhan padanya, ia terjatuh ke dalam jurang. Kemudian ia diselamatkan oleh ayah Hong Shim yang sedang berada di hutan. Sang Putra Mahkota kemudian siuman, tetapi ternyata hilang ingatan, ia bahkan tidak tahu nama dan latar belakangnya. Di sisi lain, selama ayahnya pergi, Hong Shim dibawa ke balai kota, disiksa karena tidak dapat memenuhi perintah Putra Mahkota untuk menikahkan semua perawan dan bujang yang ada di Joseon, dan Hong Shim adalah satu-satunya perawan yang belum menikah di kotanya.
Ayah Hong Shim terkejut saat mendengar berita bahwa anak angkatnya tengah disiksa. Melihat ada seorang pria tampan, gagah, terlihat baik hati, dan lupa ingatan sedang terbaring di rumahnya, ayah Hong Shim mendapat sebuah ide. Ayah Hong Shim memberi tahu bahwa sebenarnya ia bernama Wondeuk, dan mengarang beberapa cerita padanya.
Ayah Hong Shim lalu segera pergi ke balai kota, menghentikan proses siksaan Hong Shim, dan mengatakan bahwa tunangan Hong Shim, yaitu Wondeuk telah kembali dari wajib militernya. Wondeuk hadir sebagai penyelamat Hong Shim, lalu tanpa tahu apa-apa, mereka menikah. Dan kehidupan Sang Putra Mahkota sebagai rakyat biasa bernama Na Wondeuk pun dimulai.
Ada beberapa hal yang aku pelajari dari drama ini.
1. Ketimpangan sosial dan tidak ada yang benar-benar hidup dalam kenikmatan
Drama kerajaan ini sangat menggambarkan ketimpangan sosial dan kontras antara rakyat biasa, bangsawan, dan rakyat yang punya koneksi dengan bangsawan.
Sang putra mahkota, bukan hanya melihat, tapi juga merasakan ketimpangan itu.
Salah satu contohnya, saat menjadi putra mahkota, makanan sudah disediakan oleh pelayan, tanpa perlu mencari atau bekerja terlebih dahulu. Hidangan yang disajikan sangat beragam dengan porsi yang cukup besar, demi memenuhi kebutuhan gizi putra mahkota di negeri itu.
Sebaliknya, Wondeuk dan rakyat biasa lainnya, harus bekerja mati-matian untuk bisa makan. Bahkan, terkadang mereka perlu melakukan pekerjaan yang memalukan dan membahayakan hanya untuk mengganjal perut dengan makanan dari bahan seadanya, dengan porsi minim dan kelezatan yang jauh dari hidangan istana, yang penting bisa bertahan hidup.
| Wondeuk bekerja sebagai rakyat biasa (tetep ganteng bangtt😭) |
Kendati demikian, yang tinggal di istana dengan segala fasilitasnya tidak bisa hidup lebih tenang. Mereka hidup dengan kenyamanan dan keamanan yang semu. Tak ada yang tahu siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang pengkhianat. Kedudukan yang dimiliki membuat sangat rentan terhadap musuh dalam selimut. Bisa saja orang terdekatmu ternyata berencana menghancurkanmu.
Sementara itu, rakyat biasa yang penuh tantangan dan hinaan biasa bersosialisasi dengan kekeluargaan yang erat. Mungkin karena perasaan senasib seperjuangan. Jika yang satu sedang sulit,yang lainnya ikut membantu, tanpa minta balas jasa. Pokoknya, meskipun sulit dan tidak nyaman, hidupmu tenang karena ada banyak teman yang tulus membantumu, asalkan kamu tidak berhadapan dengan pejabat korup saja.
2. Ilmu itu sangat, sangat, sangat penting
Meskipun hilang ingatan, Wondeuk tidak kehilangan ilmu dan keterampilannya. Mungkin inilah yang dimaksud العِلْمُ يَبْقَى . Pada awalnya, Wondeuk terlihat bodoh dan tak bisa diandalkan. Ia tidak bisa memotong kayu, menganyam jerami, dan hal-hal lainnya yang biasa dikerjakakan rakyat Joseon. Tapi, setelah satu momen, tidak ada yang menyangka ternyata Wondeuk pandai membaca, ahli dalam sastra, jago bela diri, berpedang, dan bijaksana dalam memutuskan sesuatu. Ilmu yang ia pelajari dan keterampilan yang ia asah bertahun-tahun tidak ikut hilang bersama memorinya. Dalam salah satu dialognya: "Tubuh jauh lebih baik dalam mengingat daripada otak".
Memang benar, pintar itu relatif. Wondeuk terlihat bodoh bagi rakyat, karena rakyat membutuhkan ilmu praktis untuk menghasilkan uang dan bertahan, sementara Wondeuk tak mampu. Di sisi lain, rakyat terlihat bodoh bagi para bangsawan, karena bangsawan butuh ilmu teori, kemampuan baca-tulis, filsafat, dan keterampilan berperang agar mampu mengeluarkan buah pikir dan bertahan, rakyat tidak punya kemampuan seperti itu.
| Putra Mahkota dalam Pertempuran (ganteng bangtt😭) |
Di sini juga ditunjukkan bahwa ilmu sangat penting. Ilmu membuat seseorang menjadi cakap, terampil, kompeten. Ketidak-cakapan akan mebuat ketakutan menghantui.
Sang Raja menduduki takhta setelah terjadi pemberontakan kepada raja sebelumnya. Tanpa pendidikan khusus untuk mempersiapkan dirinya menjadi raja, ia naik takhta tanpa tahu apa-apa. Ia hanya dimanfaatkan oleh para pengkhianat. Itulah mengapa ia menjadi raja yang kurang cakap. Raja kurang cakap menumbuhkan pengkhianat yang menipu dan mengendalikannya. Ia adalah raja, tapi ia takut berbuat atau memutuskan sesuatu, karena ia banyak 'tidak tahu'.
Contoh yang baik terlihat pada Putra Mahkota. Oleh karena beberapa hal di masa lalunya, ia serius pada pendidikannya, cakap dalam segala hal, baik akademik, maupun non-akademik. Ditambah dengan pengalamannya dalam pekerjaan kasar sebagai rakyat biasa menambah kesempurnaan kecerdasannya. Oleh karena ilmu dan kecakapannya, Putra Mahkota lebih berani dalam bertindak dan membuat keputusan bijaksana. Ia bertindak atas kehendaknya, tak ada bisa menjadikannya boneka. Hingga akhirnya ia berhasil mengalahkan para musuh dalam selimut dan dengan tegas menghukum bangsawan-bangsawan korup lainnya. Ia mengangkat derajat orang-orang jujur yang sebelumnya direndahkan, dan memastikan kesejahteraan rakyat.
Aku suka sekali saat adegan Wondeuk akhirnya ditemukan. Padahal dia sudah sangat nyaman hidup bersama teman-teman rakyat biasanya, dan sudah memutuskan untuk tak peduli lagi pada latar belakangnya yang ia tak ingat, karena ia ingin terus hidup bersama Hong Shim. Setelah diberi tahu bahwa sebenarnya dia adalah putra mahkota, meski kaget, ia memilih untuk kembali ke istana. Meski berpisah dengan Hong Shim membuatnya menderita, ia tidak hanya memikirkan kebahagiannya sendiri, maka ia memutuskan memenuhi tanggung jawabnya sebagai putra mahkota.
Aku juga suka sifat Hong Shim yang meski sebenarnya dia adalah putri bangsawan, ia melihat orang lain sebagai manusia yang sederajat. Ia berani, jujur, pintar, dan suka membantu yang sedang kesusahan tanpa meminta imbalan.
Tapi jujur, kasihan sekali pada tokoh yang diperankan Kim Seon Ho, sudah mah anak selir, sering direndahkan, jadi second lead pula 😭. Tapi aku suka tokoh ini, meski sering direndahkan karena anak selir, dia tidak peduli, dia membuktikan diri dengan kecerdasan dan kebaikan hatinya.
Pokoknya, drama kerajaan ini menurutku tidak klise, seru untuk ditonton. Aktornya top, ada Kyungsoo, Nam Jihyun, dan Kim Seon Ho. Muskinya ga usah diragukan, Chen yang nyanyinya. Romancenya dapet, historynya juga dapet karena melibatkan kerajaan lain yang sezaman, komedinya juga dapet bangett.. pokoknya drama ini sangat direkomendasikannn👌👍.
0 Comments